Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Referensi Model dan Kebutuhan Internet of Thing

Referensi Model IoT

Berdasarkan IoT World Reference Model, Referensi model IoT dibagi menjadi tujuh layer, seperti pada gambar di bawah ini.

1. Physical Devices & Controller

Terdiri dari 3 bagian, yaitu sebagai berikut:

  • Sensor. Dimana sensor dapat mengidentifikasikan bagian physic dari alam. Sensor dapat berupa pengukur suhu, pengukur jarak dan sebagainya.
  • Embededed system (sistem benam). Minimum sistem atau pusat pemrosesan yang berukuran kecil dan dilengkapi dengan beberapa interface IO.
  • Gateway. Perangkat komunikasi yang menghubungkan perangkat physical dengan internet

2. Connectivity

Perangkat komunikasi yang menghubungkan antara perangkat fisik dan edge computing, bisa berupa 4G, Wifi, LoRA dan sebagainya.

3. Edge Computing

Layer yang berfungsi untuk menangkap data yang dikirimkan dari sensor. Pada layer ini data dipersiapkan untuk dapat disimpan pada suatu database.

4. Data accumulation

Pada layer ini data yang telah sampai disimpan pada suatu storage. Dimana storage yang dapat digunakan bisa berupa SQL atau NoSQL base.

5. Data Abstraction

Layer ini berfungsi untuk mengatur aliran data di sisi server atau cloud, dimana data yang masuk akan diarahkan menuju ke tempat penyimpanan atau diarahkan ke tempat lain seperti visualisasi, machine learning atau lainnya.

6. Application

Layer ini memiliki fungsi sebagai kontrol sistem, vertikal untuk mobile aplikasi dan juga Bisnis intelijen dan analisis. Dimana data diolah dengan machine learning untuk mendapatkan klasifikasi, cluster dan juga peramalan data.

7. Collaboration & Prosess

Layer ini memberikan informasi kepada personal untuk dapat melakukan suatu hal berdasarkan data yang diterima. Proses bisa dilakukan sebagai feedback.

Kebutuhan IoT

Menurut Harmon, Castro-Leon, dan Abide (20152 ada 10 hal penting dalam solusi penggunaan loT adalah sebagai berikut:

  1. Sensor adalah komponen yang penting dalam loT. Jumlah data yang dibuat oleh sensor akan sangat besar, dan peralatan loT akan berkomunikasi via channel komunikasi seperti wi-fi.
  2. Keamanan. Jaringan loT ada salah satu subjek untuk serangan cyber yang dapat merusak infrastruktur yang penting seperti suplai air, airport, jembatan, dan dam air. Keamanan dibutuhkan dalam 4 level yaitu pengamanan tempat penyimpanan untuk data sensor, pengamanan dalam database, pengamanan untuk komunikasi dan pengamanan dalam lingkungan yang dieksekusi.
  3. Fault Tolerance. Kunci penting dalam elemen infrastruktur membutuhkan fault tolerance yang berfungsi apabila terjadi kejadian seperti bencana alam atau masalah listrik. Batere cadangan dibutuhkan untuk menjamin bahwa fungsi dari sensor akan terus berjalan untuk beberapa waktu bila terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Kedua infrastruktur yang penting perlu diperhitungkan untuk menjamin bahwa sistem loT akan terus berlanjut bila terjadi hal-hal seperti pencurian data atau intrusion. Hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa data aman dari pencurian dan apabila terkena malware maka malware itu tidak menyebar ke sistem yang lebih luas. 
  4. Energy Harvesting. Banyak peralatan yang memakai teknologi loT akan ditempatkan di lokasi yang belum terjamah listrik secara penuh. Dalam lingkungan seperti ini sensor harus memiliki mekanisme untuk menjamin bahwa alat akan terus beroperasi selama 10, 15, atau 20 tahun tanpa intervensi manusia. Salah satu contoh pengambilan energi bisa dilakukan dengan sel surya.
  5. Konektivitas. Jaringan loT harus mendukung sensor yang lambat dan juga cepat. Sebagai contoh untuk memperjelas yang dimaksud sensor yang cepat apabila suatu kamera CCTV menganalisis secara real-time suatu video apabila terjadi kecelakaan, tetapi apabila tidak ada kecelakaan maka tidak ada yang dikomunikasikan di cloud pada kondisi ini sensor bisa disebut sebagai sensor yang lambat.
  6. Pengelolaan. Karena banyaknya sensor yang ditaruh dalam jarak berjauh - jauhan, jaringan loT harus mempertimbangkan cara untuk mengelola peralatan itu dari tempat jauh. In' termasuk melakukan pembaharuan sistem, profil, algoritma, dan parameter utama dalam pengelolaan.
  7. Mesh-networked devices. Peralatan loT harus bisa "berbicara" antar satu sama lain tanpa harus metewati jaringan backend, berbagi data, dan berkomunikasi dengan alat lain disekitarnya untuk memproses data bersama - sama.
  8. Application Programming Interface (API) yang terbuka untuk menciptakan servis yang lebih balk: Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa data set yang bisa diciptakan dari alai yang menggunakan jaringan loT bisa berjumlah sangat besar. Banyak data ini akan disimpan tanpa dianalisis. Jaringan loT harus memiliki akses untuk data yang bisa disebar dan agar bisa digunakan untuk pengembangan dari aplikasi inovatif.
  9. Backend atau penyimpanan dengan cloud. Disini data dan statistik akan disimpan, dianalisis, dan diproses untuk menghasilkan hasil yang bisa digunakan untuk keputusan besar. Untuk memperjelas sebagai contoh bisa dilihat pada data cuaca yang diambil secara berkala setelah beberapa waktu dapat digunakan untuk memprediksi cuaca di area tertentu dari kota.
  10. Komunikasi jaringan sensor. Peralatan loT menggunakan beberapa metode komunikasi seperti Radio Frequency Identification (RFID), DSL, GPRS, WiFi, LAN, 3G. Dalam berkomunikasi syarat yang harus dimiliki oleh benda - benda yang smart adalah benda itu bisa memproses informasi, mengkonfigurasi din sendiri, mengurus did sendiri (self-maintain), memperbaiki diri sendiri, membuat keputusan secara independen, dan pada akhirnya diharapkan berperan aktif dalam membuang atau menonaktifkan diri sendiri (Bari, Mani, & Berkovich, 2013).

Sedangkan menurut Miorandi, Sican; De PeIlegrini, & Chlamtac, (2012) selain 10 hal diatas, masih ada 2 hal lagi yang berbeda yaitu:

  1. Scalability. Seiring berkembangnya objek yang terkoneksi pada jaringan IoT maka muncul permasalahan scalability seperti sulitnya knowledge management yang ada karena mungkin untuk dibuatnya versi digital dari setiap alat yang sebelumnya sudah ada di dunia nyata, atau permasalahan interkoneksi apabila alat yang menggunakan jaringan loT semakin banyak.
  2. Kemampuan melacak alat. Seiring perkembangan jaman maka alat yang terkoneksi ke jaringan loT sebaiknya memiliki kemampuan untuk dilacak di dunia nyata.

Posting Komentar untuk "Referensi Model dan Kebutuhan Internet of Thing"

Berlangganan via Email